bond: a poem

i’m a loner
bukan karena aku menginginkan kesendirian
bukan juga karena dunia yang meninggalkanku
aku hanya berpijak pada kakiku
tak berani mengambil sandaran
karena aku takut menyadari betapa rapuhnya kakiku
aku bergantung pada diriku sendiri
tidak mencoba bergantung pada orang lain
aku takut mengetahui betapa aku tak mampu
aku berjalan sendirian
bukan karena tak ingin ada orang yang berjalan di sampingku
aku hanya takut tak mampu lagi berjalan sendiri
aku takut terbiasa dengan keberadaan orang lain
bohong kalau aku bilang aku bisa hidup sendiri
nyatanya masalah tak pernah selesai ketika aku meninggalkan dunia
dunia akan tetap berputar
dan masalah, tetap adalah masalah
bohong kalau aku bilang tak ingin menambatkan hatiku
tapi aku selalu tau betapa rapuhnya ikatan itu
aku takut merasa hilang
satu saat ketika aku tak lagi terikat
mungkin aku hanya pengecut
yang tak ingin diriku terluka
tapi kehidupan menunjukkan padaku dengan caranya yang terkejam
bahwa kau harus selalu bisa mengandalkan dirimu sendiri
bahwa tak seorang pun mampu menolong jika kau tak menolong dirimu sendiri

 kata saya:
a lot of sorry. she gak pernah berpikir rasanya bakal sakit kaya gini kalo she lagi mikirin tentang ikatan. bond. kizuna. awalnya she kira kebanyakan baca fanfic sasunaru cuma bakal bikin she addicted to yaoi. tapi ternyata she salah. semua itu cuma bikin she mikir lagi. pernah gak si she punya ikatan yang demi ikatan itu she rela sampe termutilasi hanya untuk menjaga ikatan itu? (ref: kata-kata naru pas mau nyampe markas bakoro)
nyatanya, she gak pernah punya. bahkan ikatan yang akan membuat she berkorban sedikit aja untuk menjaga ikatan itu, she gak pernah berani bikin. bukan karena gak mau. she selalu berusaha untuk mengikat seseorang. seseorang yang bakal bisa she jadiin pegangan di saat she ilang gak tentu arah. nyatanya ada sesuatu di dalam diri she yang melarang itu terjadi.
pernah suatu ketika temen she seneng banget karena liat she nangis. karena she gak pernah mau nangis. apalagi nangis buat orang lain. like hell i would! karena she selalu berpikir, kalo ada orang yang pantes buat bikin she nangis, orang itu adalah orang yang selalu menjaga she buat gak nangis. haven’t found that one.
dulu, she yang warnanya masih putih polos bakal dengan mudahnya bikin ikatan sama siapapun. semua orang itu baik–anggepan yang ini masih berlaku sampe sekarang, sih. she sendiri juga gak tau kapan tepatnya muncul shield di jantung she. yang selalu menjaga biar jantung itu tetap berdetak meski she sendirian. yang menjaga jantung itu tetap berdenyut meski gak ada satu pun lagi yang bisa she andelin. ketika she cuma bisa mengandalkan diri sendiri.
sekarang, meski hidup she looks like perfect–good friends (real friends and fake friends–hey, i don’t have fake friends!), good parents (haven’t thought they match to each other before high school), good brother (this one is best–i didn’t expect him to be this great though), good life–tetap aja warna she udah bukan lagi putih polos. polos mungkin, tapi warnanya kelabu. dan she bersyukur itu bukan hitam. she gak punya kakak laki-laki yang membunuh seluruh anggota klan after all. (ref: sasuita’s relationship) yang she tau, semua yang dilakukan dengan usaha keras, pasti akan mendapatkan balasannya (so proud of you, mom). ketika awal dari perjuangan itu terasa berat, saat itulah kau sadar bahwa ketika kau berhasil melewatinya itu akan sepadan.
she gak pernah berencana buat bilang ini ke siapapun, tapi entahlah, mungkin batin she ngerasa she butuh pembelaan as to why i can’t make that f**kin’ bond.
orang tua she adalah the best parents ever. mereka saling menyayangi–dan mungkin kadang terlalu berlebihan. mereka mengerti satu sama lain dan bisa menerima kekurangan dari yang lain dengan tangan terbuka dan senyum yang cerah. tapi itu sekarang.
ada yang bilang–dan bukan cuma satu–kalo she tu selalu ngomong dengan nada yang sinis. baru belakangan ini she nyadar dari mana itu berasal. kemungkinan pertama: keturunan. i talk the way my dad does. kemungkinan kedua: kehidupan yang sinis ma she–oke yang ini terlalu sinetron, jadi yang paling mungkin adalah kemungkinan pertama. dan kenapa she gak mewarisi cara bicara mom yang soft and relaxable itu?
fact: semasa kecil she sering banget ditinggal di rumah bareng my dad doang. dan siapa coba yang ngomong sama she di saat-saat seperti itu. she kecil–yang sekarang masih juga kecil–sering ngeliat ibunya nangis di saat ayahnya gak di rumah melainkan di antah berantah. anak kecil yang masih polos itu juga pernah ngeliat ibunya yang gak nangis–tapi tetep gak bisa nutupin kesedihannya–di saat nulis surat ke orang tuanya dan menyatakan kalau keluarga kecilnya bahagia. anak itu juga pernah gak sengaja baca buku yang berisi tulisan-tulisan sedih ibunya–yang mungkin gak pernah diceritain ke manapun. oh, she’s so screwed kalo orang tua she sampe baca ini. tapi she pengen banget mengangkat sedikit beban anak kecil itu. she pengen melihat dunia seakan ada orang yang bisa she jadiin pegangan sampe akhir. kalo orang yang akan menikahi she gak akan bikin she mencoba kabur dari rumah di saat she gendong anak yang umurnya bahkan belum genep setaun sambil nyeret anak pertama yang belum juga lulus tk–hanya karena umur pernikahan yang masih terlalu muda.
oke, ini mulai melenceng. tapi pernikahan juga ikatan, kan? setidaknya, kalo she nikah nanti, she bakal nikah sama orang yang berhasil bikin she rela mengorbankan sesuatu untuknya. karena itu berarti she punya alesan untuk bilang dia ‘berarti.’
dan kalo she harus bilang siapa temen she yang sebenernya, orang-orang yang masih bisa tahan ada di sekitar she padahal udah tau she itu nyebelin pake banget, berarti orang itu pantes disebut temen.
afraid that it would be too long if i don’t stop it here, so…

rereading this, i thought, whoa, i’ve been through that, too, huhh.

like, there was a time when i really have feelings. sekarang jauh lebih numb soalnya. dan kalau she mendambakan pernikahan–karena itu semcam ikatan yang effort nya bukan di bikin nya tapi mempertahankan nya–sekarang saya nggak begitu peduli. like, kalo si muse dateng ngelamar, i’d say yes. but i’m fine either way. bukan karena saya sudah baik saja sendiri, tapi saya udah clueless gimana caranya functioning like a decent human being. haha.

nope. not gonna go there.

 

Advertisements

2 thoughts on “bond: a poem

  1. udah pengen nikah, bu???

    emg ikatan it mgkn ngebuat kt bs tenang,,
    karna da yg kt jadi'in sandaran,,,

    jd carilah ikatan yg terbaik,
    mgkn kaya' ikatan hidrogen??

    so, don't stop believing….!!!

    ps: review punya aku dong!!! harus mesti kudhu wajib militer !!!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s