tada, kimi wo aishiteru

finally crying.
tau deh, openingnya gak lucu. gak tau kenapa beberapa hari yang lalau she beneran pengen banget nangis. kalo yang kemaren itu she gak punya alesan buat nangis. dan mungkin sekarang bolehlah she nganggep she punya alesan buat nangis. cuma gara-gara nonton film sii. perlu gak dibilangin judul film nya? oke de, meski gak ada yang mau, anggep aja she posting resensi film. (dan kalo ada bramana danu di sini, dia bakal marah-marah gara-gara she gak fokus)
title: tada, kimi wo aishiteru (just, loving you)
international title: heavenly forest (gak penting juga si yang ini)
duration: gak ngitung tepatnya tapi sumpah pas nonton gak berasa.
she nyangka she beneran gak akan nangis kalo cuma buat cerita roman picisan yang gak jelas jeluntrungannya. tapi she salah. oke, salahkan cuaca juga yang bikin she pilek. (karena percaya gak percaya, keadaan pilek bisa bikin seseorang lebih gampang nangis–susah napas soalnya ^^ ). film itu mengisahkan tentang dua orang yang tidak sempurna (back then, everyone has their own flaws) dan menemukan orang lain yang sama tidak sempurna. sebutlah makoto dan shizuru (sumpah kalo cuma baca bagian nama yang ini doang she pasti bakal ngira ini yuri), dan anggep aja mereka kuliah di FBS–kalo itu kampus mereka bisa dianggep UNY.
awal pertemuan mereka begitu sederhana. ketika shizuru mencoba menyeberangi jalan yang begitu ramai hingga tak membiarkan seorangpun untuk menyeberang–dan tentu saja tidak ada orang yang terlalu baik hingga menghentikan mobilnya. dan makoto tidak melakukan hal lain selain mengatakan kalau tempat itu memang tidak lazim untuk menyeberang. shizuru didn’t care though.
and they keep bumping into each other in a nice way–kalo diliat dari segi drama. tapi makoto hanyalah seorang penyakitan yang menjauhkan dirinya dari perdaban karena merasa malu pada dirinya yang dianggapnya berbau obat–itu hanya perasaannya, sih. dan shizuru? dia hanya seorang gadis yang selalu berusaha untuk tidak tumbuh dewasa karena dia tau begitu dia tumbuh dewasa penyakit yang bersarang dalam tubuhnya juga akan tumbuh bersamanya dan membunuhnya pelan-pelan (i really wanna know ini penyakit apa! di film nya bahkan gak disebut nama penyakitanya…).
lelaki mungkin tidak menyukai wanita ‘selalu’ dari penampilannya. tapi penampilan lah yang pertama kali akan menarik seorang lelaki (apa ini alesan… *dibekep sebelum ngelantur*). jadi bukan hal aneh kalau makoto akan menyukai miyuki yang begitu cantik, mempesona, dan dewasa. dan memang itulah yang terjadi. shizuru hanya bisa keep babbling that someday dia bakal dewasa juga. punya bentuk tubuh yang bagus dan dicintai semua orang. tapi apa kau akan percaya kalau seorang gadis berusia dua puluh satu tahun mengatakan dia masih punya gigi susu? normalnya kau hanya akan menertawakannya. dan makoto sangat normal.
skip deh. begitu makoto menyadari bahwa selama ini shizuru lebih dari sekedar sahabat untuknya, saat itulah dia menyadari kalau seharusnya dia lebih cepat menyadarinya. karena ketika dia merasa dia punya rumah tempat dia akan berpulang, saat itu juga dia kehilangan tempat bernaung bagi hatinya. apa kalimat ini membuat kalian berpikir shizuru mati karena penyakit aneh yang tadi? not that fast. but gak seru aja kalo itu juga diceritain. yang jelas ni movie sweet banget. apalagi kalo ditonton saat hidung lagi mampet sebelah. feel pengen nangisnya dapet banget.
ada yang mikir ini film baru? bukan. ini movie terbitnya 2006 or somewhere near that lah. dan mungkin telat banget review ini muncul. tapi buat yang belom nonton, nonton aja de. gak bakal kecewa. oiya, chiaki-senpai (pemeran makoto–lupa nama aslinya) ternyata lebih cakep pas jadi anak kuliahan… *bayangin* *dilempar sandal*
eh, mau back to pernangisan deh sebelum blog ini, eh, entri ini ditutup. she tu sesenggukannya pas udah ditambah baca note yang di-tag ke she di facebook. note itu cuma menyatakan betapa seorang ayah akan menyayangi anaknya. tapi entah kenapa, meskipun kata-kata di note itu gak nyambung sama kehidupan she, tetep aja rasanya sakit kalo inget she adalah tipe orang yang akan selalu menolak kalo dipeluk ayah–padahal seneng banget kalo dipeluk ibu.
she liat lagi entri yang pernah she bikin–yang diawali dengan poem ‘loner’. dan she kembali mengingat satu hal buruk. satu malam di saat she sakit dan ayah justru nowhere to be found. dan figur ayah di mata she saat itu sangat buruk kalo mau tau. jadi i keep blaming him–cuma deep inside my heart, sih. back then, mungkin itu juga alesan she gak suka dipeluk ayah. she masih juga gak bisa menerima kalo dalam masa terburuknya, seorang manusia yang sangat baik sekalipun dapat tergoda oleh godaan iblis. dan mungkin saat itu adalah salah satunya.
ah, get over it. nyatanya she gak akan bisa kalo bercerita dengan gamblang. bakal menyakitkan.
jadi, she cuma mau bilang kalo she punya rencana buat bikin sasunaru version of that movie i reviewed before. semoga aja dengan nulis ini somewhere bisa bikin she beneran bikin. hehe… ^^
sign,
shepalonewalker.
= ^.^ =
written at monday, june 20 2011 9:23 pm
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s