movie review: I Hate Valentine’s Day

Ini bukan movie baru. Bahkan aku gak pernah tau kapan movie ini pertama tayang di movie. Oke, kalimat itu ambigu. Bentar, :nyari arti kata movie di kamus:
Jadi, menurut Cambridge, movie itu cinema film. Dan kita bisa nonton itu di cinema. Jadi kalo sinetron diartiin jadi sinema elektronik, berarti itu alatnya dong? Argh, terserah.
Balik ke movie yang tayang kapan gak tau itu, I’ve just seen it a couple minutes ago. It’s a simple romance story. Rated T (for teen). Or international rate nya R. Ceritanya bukan cerita lain dari yang lain yang begitu keren. It’s just an ordinary story.
Tentang seorang cewek named Genevieve yang dia itu gak pernah mau kenal yang namanya komitmen. Buat dia, romansa itu adalah lima kali kencan. You need to watch the movie kalo mau tau aturan kencannya (soalnya aku lupa). Tapi seperti kebanyakan romance movie, itu adalah sebelum dia ketemu sama a certain guy. In this case named … (oh God, I just forgot the name and too lazy to watch it all over again just to get a name) oke, jadi nama itu bukan detail yang penting kan? This guy baru aja dateng dari antah berantah dan berniat buat bikin restoran di tempat yang dikenal masyarakat situ sebagai tempat yang dikutuk.
Mereka pertama ketemu di toko bunga nya Genevieve sehari sebelum V-day. Seperti hal nya cowok normal yang tinggal di Barat, dia pengen kasih hadiah buat cewek nya. Dan Genevieve hanya memberi saran yang membuat—o iya namanya Greg—si Greg itu menyadari siapa cewek nya yang sebenernya. Oke, maksudnya kelakuannya.
Jadi akhirnya Greg putus sama ceweknya yang itu and they start their five dates relationship after few days of considering.
Dan setelah kencan keempat lah Genevieve menyadari kalo romansa tu gak cuma itu. Kalo ketakutan tu gak akan membuat bahagia. Kalo gak memikirkan apa yang tidak membuat bahagia itu gak akan selamanya membuat bahagia. Karena yang kayak gitu tu artinya masih menyimpan satu ketakutan. Ketakuan akan ketidakbahagiaan.
Apalagi waktu Genevieve ngerasa ternyata dia bukan cuma pengen, tapi juga butuh Greg. Dan dia berani menghadapi ketakutan masa lalu nya untuk menghadapi masa depannya.
Nice deh pokoknya.
Fav:
~ Tim (salah seorang karyawan Genevieve) menyatakan tentang kebahagiaan dia di rumah. Menyatakan betapa gak bahagianya hidup dia kalo diliat orang. Tapi dia menyatakan kalo dia bahagia. He said ‘it’s good to be home,’ despite of istrinya yang selalu marah-marah, bau lagi, juga anak-anaknya yang gak tau aturan, and that’s nice. Dia menghargai komitmen yang udah dia buat. Dan semakin mengingatkan kalo pernikahan itu bukan cuma masalah cinta. Itu masalah komitmen. Cinta? Makan tu cinta.
Hell yes, aku masih mikir kayak gitu. Cinta gak akan pernah cukup. Komitmen yang bikin aku bertahan. (Ini bukan menyatakan kalo aku udah nikah loh…)
~ Cal (temennya Greg) bilang kalo cowok itu emang udah kodratnya untuk berbuat bodoh. Hell, setuju banget. Tapi bukan berarti bakal suka kalo liat cowok bertingkah bodoh. Beringkah sarap mungkin. Lagian kan aku suka Kang Minhyuk gara-gara dia mukanya bego (gak nyambung!).
Hate:
Pada dasarnya aku emang gak terlalu suka genre kayak gini. I love comedy and family. Aku ngerasa itu lebih cocok ditonton bareng-bareng soalnya. Jadi abis ditonton, movie ini langsung ilang dari HDD aku. Jadi kalo mau minta, maaf aja. Silakan download sendiri di situs-situs yang sekiranya menyediakan.
Written at Saturday August 27th 2011 4:34 PM
=^.^=
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s