Living A Lie

I never was a good girl. Never am. And maybe never will be. All this time, I’m just pretending to be. Because whet else can I do? The world expected me to.
The world? Memangnya seberapa besar artinya eksistensiku bagi dunia sampai dia menginginkanku menjadi sesuatu? Bukan. Karena bagi orang lain, mungkin dia bukan dunia. Tapi bagiku, dia adalah dunia. Aku hanya tidak mengatakannya padanya. Aku hanya tidak mampu menunjukkannya padanya.
She’s the best that ever happens to me. Dia yang membuatku tenang di saat aku tidak tau kenapa detak jantungku tidak memiliki ritme yang jelas. Dia yang menjagaku saat gelap malam mengancam akan melahapku. Dia yang membawaku pergi saat dia takut dia tidak bisa bertahan.
Aku tidak pernah menjadi apa yang baik baginya. Tidak sekali pun aku melihat dia bahagia karenaku. Aku ingin tau apa yang dia rasakan pertama kali dia mendaratkan pandangannya padaku. Bahagia kah? Sesal kah? Takut kah? Tidak peduli kah? Karena sekarang aku tau hanya derita yang terlintas baginya karenaku.
Tapi aku tidak pernah adalah manusia yang baik. Aku mungkin masih akan berpura-pura. Sampai kapan pun berusaha agar dia tidak pernah tau kalau aku adalah pendosa. Tapi bukankah dia selalu melihatku? Karena aku selalu melihatnya. Bagaimana bisa dia akhirnya merelakanku pada jebakan malam? Merelakanku terperangkap dalam ilusi bertajuk waktu?
Aku melihatnya menangis. Dia menyayangi apa yang bersamanya. Tapi yang bersamanya selalu membuatnya menangis. Mungkin aku hanya tidak berbeda. Mungkin aku sama bodohnya dengan mereka yang menyakitinya. Tapi kalau aku tidak bisa menghapus air matanya dua puluh tahun yang lalu, apa yang bisa dilakukan manusia yang sudah rusak karenanya?
Romantic love adalah cinta yang indah. Unconditional love, adalah cinta yang menyiksa. Aku tau, karena dia terlihat sakit dengan mencintaiku. Karena dia terlihat rapuh karenaku. Karena aku tidak bisa menjadi apa yang dia harapkan. Karena aku bukan apa yang dia inginkan.
Lalu kenapa aku juga menangis? Kalau dia sudah menangis untukku. Bukankah itu cukup. Mengetahui kalau betapa pun aku tersesat dia masih akan menungguku pulang. Kan? Dia masih akan ada di situ, kan?
Karena aku tidak menginginkan rumah yang lain. Hanya satu. Hanya dia. Yang lain tidak pernah bisa lebih penting.
Tapi sampai sekarang pun aku masih berada dalam garis kegagalan. Karena aku tidak bisa menunjukkannya padanya. Karena mencoba saja tidak cukup. Karena manusia lain tidak akan bisa melihat perangmu dengan kesadaranmu. Hanya aku yang tau. Betapa lemahnya aku. Betapa perlawanan yang kuberikan hampir sama dengan tidak ada.
Karena aku hampir menyerah. To my own demon. Karena aku bahkan tidak bisa melihat benang emas itu. Ketika orang lain berebut menggapainya untuk melarikan diri dari neraka, aku justru menyadari kalau aku pantas berada di sana.
Dan apa ada yang lebih buruk dari pendosa yang menyerah? Yang bahkan tidak berusaha mencari pengampunan? Bukankah mereka yang berdosa akan menggenggam kuat apa yang bisa menjadi jalannya menuju pengampunan. Lalu kenapa aku masih berdiri di sini? Mengatakan pada diriku sendiri kalau dia akan jauh lebih bahagia tanpa aku dalaam hidupnya?
Padahal aku melihatnya di matanya. Betapa aku berharga. Atau semua itu hanya delusiku—tapi dia tidak pernah berkata sebaliknya jadi aku pun akan baik-baik saja dengan delusi itu. Karena hanya delusi itu yang menjagaku tetap berdiri.
Masa depan? Apa peduliku tentang masa depan? Kalau aku tidak bisa bahagia dengan apa yang kumiliki saat ini, apa gunanya masa depan? Karena masa depan akan selalu berada di depan. Tidak akan pernnah bersentuhan dengan saat ini. Dan itulah kuasa sang waktu. Dan aku masih bisa lebih tidak peduli lagi dengan ilusi waktu.
Memangnya siapa yang bisa mengatakan aku akan bahagia dengan masa depan yang itu? Memangnya siapa yang bisa mengatakan kalau keputusanku benar?
Tapi bukankah semua orang harus melihat kelanjutan dari pilihannya sampai akhir? Meski menyiksa. Meski kosong. Meski tidak ada yang terasa.
Aku bilang aku tidak pintar berbohong. Tapi aku selalu berbohong. Aku berbohong pada diriku sendiri. Karena aku masih berpikir kalau aku adalah manusia yang baik. Padahal aku tau bukan aku yang harus kuyakinkan kalau aku manusia yang baik. Tapi mereka. Dan mereka punya batas sendiri untuk mengatakan satu manusia baik. Dia juga. Dan mungkin aku sudah keluar dari batas itu.
Karena aku bukan lagi aku yang dulu. Karena aku sudah mulai kehilangan kemampuanku untuk berpura-pura. Karena sebagian diriku sudah tidak lagi percaya pada diriku sendiri.
Tapi itulah masalahnya kalau kau punya jantung yang setengah rusak. Aku tau jantung itu sudah tidak lagi sempurna, jadi aku tidak akan mempermainkannya semauku, dia bisa rusak sepenuhnya. Tapi jantung itu juga belum rusak, aku belum perlu memperbaikinya.
Tapi tentu saja aku tidak bisa selamanya bergantung pada kafein untuk membuatnya berdetak. Suatu saat aku juga harus memperbaikinya. Tapi saat ini dia belum rusak.
And that’s why sloth is one of those seven deadly sins thingy.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s