menyambut senja bersama orihara izaya – pengenalan a

kata saya:

saya belum pernah–ah, nggak jadi. saya udah pernah baca terjemahan jepang-indonesia. semacam musashi sama trilogi klan otori. (siapa pun yang punya epilog yang ada kata heron nya itu, saya pengen dipinjemin, sih.) tapi saya tau saya belum pernah baca terjemahan buat narita ryohgo. kesabaran saya yang cuma sampe halaman kedua gugel menyatakan kalau pernah ada usaha, tapi nggak ketemu dan saya sedih karena itu berarti saya nggak punya panduan gaya bahasa macam apa yang mesti saya pake kalo mau ngacak-acak mahakarya yang nggak tau bakal ada sekuelnya apa nggak ini.

saya punya diksi dan tata bahasa yang aneh–kata saya sendiri–jadi kalau ada manusia yang berkenan jadi proofreader ato editor (pada dasarnya saya nggak tau mereka bedanya apa), semacam dipersilakan.

lower case nya antara estetika sama saya males proofread.


menyambut senja bersama orihara izaya

bab pengenalan a: informan di kotamu

 

‘sungguh, aku punya kesempatan untuk membunuhnya?’

 

satu baris usang berbahaya itu diucapkan oleh seorang pekerja kantoran berbaju putih pada telepon.

“ya, saya yakin hari ini dia tinggal sendirian di kantornya. nomor sandi brankasnya pun tidak salah. saya bisa menjamin itu.”

‘begitu…. petugas keamanan juga tidak ada; mungkin hari ini mereka libur. benar-benar mudah.’

“memastikan saja, anda benar-benar bisa membunuh orang?”

mendengar pertanyaan itu dari seberang telepon, laki-laki itu pun menjawab dengan kesal.

‘tentu saja! sudah begini seenaknya kau bicara! aku dan dia sama-sama bersusah payah mendirikan perusahaan ini, tapi dia seenaknya membuangku! seenaknya dia memonopoli hasil penelitian perusahaan!’

“tapi menurut saya, setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri. lebih baik anda tidak usah membalas dendam. bukankah lebih baik kalau anda mengambil jalan lain untuk menjalani hidup yang baru?”

‘tentu saja tidak mungkin! kami bersahabat… tidak, dia kuanggap sebagai sahabatku! tapi dia hanya menganggapku sebagai batu loncatan! dia mengambil semuanya dariku! padahal dia tau… kalau aku punya keluarga yang harus kuhidupi… kalau aku masih punya hutang! aku dan keluargaku harus menggelandang di pinggir jalan! sekarang giliranku untuk mengambil semua yang dia punya, kan!’

lelaki itu terus menaikkan suaranya; seolah dia sedang meyakinkan dirinya sendiri.

mungkin juga dia mengatakan itu agar orang di seberang telepon setuju dengannya:

kalau “pembunuhan ini pantas.”

“entahlah, meskipun saya pikir anda bisa menghidupi keluarga anda kalau anda tidak memilih pekerjaan ini. tapi saya menghormati keputusan apa pun yang anda ambil. apa pun konsekuensi yang akan anda hadapi nanti.”

‘tidak usah sok peduli! kalau berhasil, kau juga yang menikmati separuh uangnya! paling-paling kau juga hanya akan kabur!’

karena tidak ingin bicara lagi, lelaki itu pun menutup telepon dengan teriakan getirnya.

di kepalanya, terus berkeliaran pertanyaan semacam, “yakin, akan melakukannya?”

— dasar, informan sialan. sudah sejauh ini dia malah membuatku ragu….

seolah ditampar dengan sebuntal sawi, lelaki itu pun mengambil keputusan.

dia melangkahkan kaki menuju malam dengan satu pisau tersembunyi—karena menurutnya, balas dendam yang akan dilakukannya adalah pantas.

dia percaya satu langkah itu adalah satu langkah menuju kehidupan yang baru.

 

‘sialan… kenapa… kenapa jadi begini….’

beberapa saat kemudian—setelah dia ‘menyelesaikan’ masalahnya, lelaki itu jatuh ke lututnya di sebuah gang kecil.

baju putihnya lengket oleh darah, pisau lipat baru yang dia pegang di dadanya pun berlumuran dengan darah.

‘aa…. apa yang terjadi…? kenapa… apa?’

lelaki itu menggelengkan kepalanya tidak percaya saat telepon selularnya menyuarakan panggilan masuk.

tanpa melihat siapa yang memanggilnya, dia menerima panggilan itu dengan tatapan hampa.

setelah itu, seolah mengetahui keadaan sang lelaki, satu suara riang terdengar dari ujung telepon.

“hei, selamat! bisa menerima panggilan ini, berarti masalahnya selesai dan anda bisa kembali dalam keadaan baik-baik saja! ”

‘baik-baik saja… baik-baik saja katamu?’

lelaki itu bicara dengan suara bergetar setelah menggeretakkan giginya.

‘br… brankasnya… brangkasnya tidak berisi uang. aku malah… aku menemukan surat kepemilikan perusahaan yang sudah diganti menjadi atas namaku… setelah memb… me, meme, membunuhnya, aku melihat komputernya, dia menulis kalimat tuduhan untuk perusahaannya sendiri…’

“aah, memang begitu,”

‘hah…?’

“karena hari ini dia memang tinggal sendirian di kantor untuk menulis surat itu,”

‘…?’

“berdasarkan kepribadian anda, kalau anda tau tentang penipuan yang terjadi, anda pasti akan mengajak dia untuk mengambil tanggung jawab bersama, bukan? tapi dia tau kalau anda punya keluarga dan hutang yang harus anda tanggung dan tidak ingin menambah beban anda. bukankah pak presdir akan berpikir seperti itu? karena itu dia bertikai dengan anda dan mengambil alih manajemen perusahaan agar anda tidak ikut terperangkap. dia memutuskan untuk mengambil tanggung jawab sendiri dan melepaskan anda dari perusahaan.”

lelaki itu menelan ludahnya.

setelah diingat lagi, di dalam komputer yang dia lihat memang ada pernyataan semacam, “sebelum penipuan ini terungkap, rekan bisnis yang curiga sudah memutuskan hubungan kerja,” yang ditujukan untuk media massa.

“saya pikir dia sudah merencanakan semuanya. kemungkinan besar setelah semua masalahnya selesai, hak atas baik produk maupun hasil penelitian akan secara otomatis menjadi milik anda.”

‘bohong!’

“meskipun saya berbohong, bukankah anda sudah mengetahui kebenarannya setelah melihat isi brankasnya?”

mengabaikan suara yang ada di ujung telepon, lelaki itu bertanya sambil menggeretakkan giginya.

‘kau… sudah… tau? meskipun kau sudah tau, kau tidak menghentikanku!?’

“anda mengatakan hal yang aneh. bukankah sudah berkali-kali saya meminta anda untuk berhenti? atau, anda mau mendengar rekaman pembicaraan kita?”

‘omong… omong kos…’

“bukankah anda yang penuh dengan omong kosong?”

sebelum lawan bicaranya meraung, orang di seberang telepon itu kemudian melanjutkan,

“saya adalah informan. kalau anda minta, pasti saya akan memberikan informasi yang lainnya. biasanya saya juga tidak memberikan saran pada klien, tapi saya sudah memberikan petunjuk semacam ‘setiap orang pasti memiliki masalahnya sendiri-sendiri’ pada anda,”

‘itu kan…,’

“anda sendiri yang menolak mengerti tentang orang lain,”

‘menge… bagaimana bisa aku mengerti! hal semacam itu…! kenapa aku harus mengerti! orang itu, dia yang salah karena tidak mengatakan apa-apa padaku!’

leleki itu berteriak seperti anak kecil sembari menahan kemarahannya yang mulai memuncak.

yang terdengar dari ujung telepon justru suara tertawa mengejek yang ditujukan pada lelaki itu.

“jangan-jangan, meskipun menganggap pak presdir sebagai sahabat, anda menyimpan dendam padanya sampai-sampai anda berpikir kalau anda perlu membunuhnya? tapi anda yang tidak mempertanyakan niat di balik perbuatan orang lain… bahkan, tanpa mencari tau, anda mengatakan kalau anda menganggap pak presdir adalah sahabat anda,”

‘aku… bohong! bohoooong!’

“tidak usah berputus asa seperti itu. bukankah saya sudah mengatakannya sebelumnya? apa pun konsekuensi yang anda hadapi, saya menghormati pilihan anda,”

 

“karena perbuatan yang anda lakukan, bukankah itu sangat manusiawi?”

 

♀♂

 

sementara itu di sekitar kantou

 

terdengar teriakan dari seberang telepon.

segera setelahnya, terdengar suara tabrakan keras yang diikuti dengingan, mengganggu pembicaraan yang sedang berlangsung.

‘ah, melompat ke depan truk?’

orang yang sebelumnya berbicara lewat telepon dengan pembunuh yang tadi melempar telepon seluler yang dipegangnya ke tempat sampah.

‘telepon tersangka pembunuhan pasti akan diperiksa rekaman panggilannya… mungkin sudah saatnya aku pindah ke kota lain,’

berbisik pada diri sendiri, di dalam ruangan itu, ditemani gemeritik suara rantai yang berputar—

lelaki berkursi roda itu memandang selusin telepon seluler yang berbaris di atas mejanya.

‘… sudah berkurang banyak. sepertinya sudah saatnya menambah jumlah telepon buangannya,’

lelaki itu mengangkat bahu, melihat ke luar jendela dan mengeluarkan senyum mengejek pada dirinya sendiri sambil berbisik,

 

‘benar-benar, ternyata rehabilitasi (mengamati manusia) susah juga,’

 

♀♂

 

dia dulunya adalah seorang informan.

itu terdengar berlebihan, dulunya ada seorang lelaki.

hanya saja, lebih dari orang yang mendapatkan penghasilan sebagai ‘informan’, lebih patut kalau disebut dia adalah orang yang tepat kalau ingin mendapatkan informasi yang sulit didapatkan.

 

dia bukanlah pembela kebenaran,

tapi bukan juga dia seorang penjahat.

 

membantu kelemahan, mengganggu kekuatan.

mengejek yang lemah, memuji yang kuat.

menyangkal yang baik, menyalahkan yang jahat.

menertawakan yang kalah, memarahi yang menang.

 

dia menjalani hidupnya dengan satu cara, namun cara lain pun bisa dia lakukan.

 

membantu kekuatan, mengganggu kelemahan.

mengejek yang kuat, memuji yang lemah.

menyangkal yang jahat, menyalahkan yang baik.

menertawakan yang menang, memarahi yang kalah.

 

bukan berarti dia tidak punya jati diri.

hanya saja, dia memperlakukan semuanya sama.

dia hanya jujur pada inginnya yang tak terbatas.

“manusia”

terbungkus selayak lumut yang menutup bongkahan batu dalam kata itu, adalah apa yang akan sepenuh hati dia cintai.

 

dia hanya mencintai manusia.

meskipun dia tau cinta itu akan menghancurkan manusia yang dicintainya.

karena informan akan selalu bisa mengagumi bahkan manusia yang telah rusak.


kata saya (lagi):

sebenarnya saya merasa berdosa melakukan ini. soalnya saya dapet raw nya aja dari sumber yang ilegal, i.e. nggak bayar. tapi saya pengen belajar bahasa jepang (dan bahasa indonesia, sebenarnya) yang nggak berasa belajar dan gratisan. curse me, right.

dan ketahuilah, sangat sulit untuk menahan diri dan nggak masang tanda ‘~’ di setiap ujung kalimat yang diucapkan izaya.

disclaimer: tidak sedikit pun dari cerita dan karakter di atas adalah milik saya. tapi terus terang saya nggak tau harus bilang semua itu punya narita ryohgo apa punya percetakannya… huhuhu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s