hitomebore

Apakah cintaku padamu sebuah hitomebore[1]? Ah, tau apa aku soal hitomebore, menuliskannya dalam bahasa aslinya saja aku tak mampu. Tapi aku tidak akan memungkiri, sudah ada desir yang aneh dalam irama jantungku melihatmu untuk yang pertama kalinya.

Pertama aku melihatmu bukanlah satu hal yang ideal untuk sebuah hitomebore. Tidak ada bunga sakura betebaran ditiup lembut angin musim semi. Tidak ada kerumunan manusia yang berubah kabur begitu mataku tertuju pada senyum lembutmu. Tidak pula aku menjatuhkan isi tasku karena sejenak kita bertumbuk. Apalagi dirimu yang menjatuhkanku dengan mobil mewah seperti semua cerita roman picisan di TV. Penglihatan tak sempurnaku menatapmu dalam gelap malam tanpa alat bantunya. Kau bukan satu-satunya yang terlihat kabur, tapi hanya siluetmu yang mengganggu irama jantungku.

Hanya suaramu yang ingin kudengar lagi dan lagi.

Ah, mungkin kau juga belum tau, aku lemah pada suara. Karena aku takut pada kesunyian. Kuharap suatu hari kau mengerti betapa suaramu membuatku tenang.

Kau pastijuga tidak tau, berapa kali aku memainkan adegan malam itu di kepalaku; mencoba mencari bagian mana darimu yang mendesirkan jantungku. Atau berapa kali aku mecoba mengatakan pada diriku sendiri untuk berhenti memandangmu.

Karena semakin aku memandangmu, semakin aku tau kalau hitomebore tidak akan tumbuh tanpa bantuan pandangan-pandangan yang selanjutnya.

Berapa kali aku berpikir mungkin aku akan menjadi orang yang berbeda tanpamu. Betapa kau pantas mendapatkan segala yang bukan diriku. Betapa kau selalu adalah bagian terbaik dalam hidupku meski tidak orang lain menyadarinya. You are.

Pandangan pertamaku akanmu membuatku jatuh. Pendengaranku tentangmu terasa seperti tangga untuk kembali. Tapi seolah aku hanya memandangmu setelahnya: aku tidak pernah memanjat tangga itu untuk kembali.

Dan berkali-kali memandangmu, aku tau tidak ada tangga yang bisa menjangkau seberapa dalam aku terjatuh untukmu.

Karenanya, terima kasih. Untuk menangkapku bahkan sebelum aku sadar betapa dalamnya aku terjatuh. Terima kasih untuk menyadarkanku kalau aku berada di dasar jurang dan aku sama sekali tidak keberatan. Karena kau juga ada di sini.

Ada yang bilang cinta muncul sebelum alasannya[2]. Bahwa cinta datang dan alasan itu kita buat untuk meyakinkan kita kalau cinta yang kita tanam baik adanya.

Sampai detik ini aku tidak mengerti alasan mana yang membuat cintaku padamu tidak berpudar sedikit pun. Tak juga aku peduli.

Kau ada bersamaku, dan aku masih percaya kalau itu cukup.


[1] Cinta pada pandangan pertama, Bahasa Jepang
[2] Araragi Karen (atau Tsukihi, saya lupa, tapi ada di Nisemonogatari pas Koyomi galau soal dia sukanya sama Hanekawa Tsubasa ato Senjougahara Hitagi)


kata saya:

i hate my muse.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s