tentang dia yang ditinggalkan,

(dan merelakan)

img_20161015_1959431

“Karena beberapa hal lebih mudah kita pahami, kalau kita tertawai.” ā€“ Raditya Dika, 2015

Koala Kumal merupakan buku ketujuh Raditya Dika, dan seperti buku-bukunya yang sebelumnya, merupakan kumpulan kisah-kisah yang terjadi dalam kehidupan Raditya Dika. Jika dibandingkan dengan buku-bukunya yang sebelumnya, terlihat betapa gaya menulisnya sudah sangat tumbuh dan berkembang sehingga komedi yang disuguhkan tidak lagi seperti komedi tanpa arti, tapi merupakan komedi yang mendidik: komedi dengan hati. Konsepnya pun terlihat lebih jelas dan mudah dimengerti.

Mungkin ada banyak nilai yang bisa diambil dari apa yang disampaikan buku ini, namun nilai yang paling menonjol adalah tentang ikhlas: merelakan. Buku ini bercerita mengenai pengalaman Raditya Dika yang berfokus pada perpisahan. Perpisahan tersebut tidak hanya melulu tentang percintaan, tapi juga tentang persahabatan, dunia kerja, kenangan, dan kenyamanan.

Ada satu bab yang mengisahkan tentang bagaimana Raditya meninggalkan sahabat kecilnya karena dia menyadari sahabat tersebut tidak lagi bisa diajak tinggal di jalan kebajikan. Ada beberapa bab yang menceritakan bagaimana Raditya mengubah kegelisahannya tentang acara TV menjadi program TV dan bagaimana dia merelakan program tersebut sebelum hanyut dalam tuntutan mainstream. Ada beberapa bab tentang Raditya yang merelakan kemungkinan jalinan percintaan bahkan sebelum kemungkinan itu terlihat. Ada beberapa bab tentang Raditya yang ditinggalkan pasangan romansanya karena kenyamanan tidak lagi mampu memberikan kejutan. Ada bab tentang Raditya yang meninggalkan orang-orang terdekatnya untuk mengusahakan apa yang dulu dia anggap sebagai masa depannya. Ada bab tentang bagaimana dia yang ditinggal sementara memutuskan untuk pergi dan berlalu. Semua bab-bab itu menjalin kesatuan untuk membangun bab terakhir yang merupakan inti buku, yaitu Koala Kumal.

Bab yang berjudul Koala Kumal adalah tentang bagaimana apa yang dulunya terlihat dan terasa nyaman tidak lagi begitu setelah ada jarak. Bahwa patah hati yang berat akan mengubah bagaimana manusia memandang sesuatu dan/atau seseorang setelahnya. Bab ini bercerita tentang bagaimana pasangan romansa Raditya yang sudah meninggalkannya dulu menyatakan keinginannya untuk kembali menjalin romansa dengannya, namun Raditya sudah dengan tegarnya mampu menjawab tidak. Karena sakit hati yang ditinggalkan orang itu sudah mengubah baik cara Raditya memandang orang itu maupun Raditya sendiri sebagai manusia. Kemudian ibu Raditya mengatakan secara tidak langsung kalau patah hati yang dirasakan Raditya dulu sudah membuatnya dewasa.

Beberapa kutipan yang saya sukai dari buku Koala Kumal antara lain:

  • Lalu, pencerahan itu datang, sama kayak gym, sama kayak olahraga, kita akan bosan kalau melakukan hal yang sama terus-menerus. (Balada Lelaki Tomboi)
  • Problemnya bukan mencari orang yang lebih baru, tetapi untuk memperjuangkan yang nyaman. (Balada Lelaki Tomboi)
  • Semakin besar bebannya semakin “rusak” otot kita dan akhirnya semakin kuat dan besar otot kita tumbuh kembali. (Balada Lelaki Tomboi)
  • ‘Kita harus baik sama orang yang kerja bareng sama kita. Kalau enggak, ya, jangan marah kalau dibales.’ (Menciptakan Miko)
  • ‘Suatu tempat baru bisa jadi istimewa kalau tetap jadi baru. Kalau udah lama, jadinya biasa aja.’ (Patah Hati Terhebat)
  • ‘Setiap orang pasti mengalami patah hati yang mengubah cara pandangnya dia terhadap cinta seumur hidupnya. Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu.’ (Patah Hati Terhebat)
  • Umur 18 tahun mungkin terlalu cepat untuk seolah tahu soal cinta, tapi gak ada umur yang terlalu muda untuk jatuh cinta, kan? (Aku Ketemu Orang Lain)
  • ‘Terus? Kenapa masih mau berharap?’
    ‘Karena risikonya sepadan,’ (Koala Kumal)
  • Beberapa luka bisa sembuh dengan baik seiring berjalannya waktu. (Koala Kumal)

kata saya:

ini sebenernya tugas yang saya publikasikan, makanya gaya bahasanya agak beda dari saya yang belakangan ini. cuma agak karena god help me saya nggak bisa nulis tanpa membawa gaya bahasa aneh saya bersama. and that will surely be the end of me. one way or another.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s